Pelantikan Pengurus Pusat MUKISI dan Rapat Pleno DSN-MUI tentang Pedoman Penyelenggaraan Rumah Sakit Syariah

Tanggal 1 Oktober 2016 merupakan hari yang bersejarah saat dilaksanakan acara Pelantikan Pengurus Pusat MUKISI (Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia), karena 22 tahun yang lalu tepat di tanggal yang sama MUKISI dideklarasikan. Acara pelantikan telah dilaksanakan di Aula Masjid Baiturahmah RS Sari Asih Ciputat, Tangerang Selatan.

IMG_1972 IMG_1973

Ketua Umum MUKISI periode 2016-2021, Dr Masyhudi AM, MKes melaksanakan pelantikan kepada 35 orang Pengurus Pusat yang merupakan amanah Muktamar IV MUKISI yang telah digelar pada 24-27 Agustus 2016. Pengurus Pusat terdiri dari BPH dan 7 Divisi. Acara pelantikan dilanjutkan dengan makan siang dan rapat kerja per divisi dan ditutup dengan rapat pleno.

IMG_1953

Pembukaan dengan Tarian Hand Hygiene, pemenang pertama lomba dari RS Sari Asih Ciputat

IMG_1955

Keynote Speech oleh Prof Dr Laksono Trisnantoro

IMG_1962 IMG_1965 IMG_1968

 

Pada hari yang sama telah diadakan rapat oleh Dewan Syuro Nasional MUI yang membahas Draf Fatwa untuk Pedoman Penyelenggaraan Rumah Sakit Berdasarkan Prinsip Syariah, di Hotel Amaris Bogor. Selangkah lebih maju untuk Rumah Sakit Syariah!

IMG_1966

Pidato Iftitah oleh KH Ma’ruf Amin, Ketua MUI

IMG_1969 IMG_1971

PT PIH di Muktamar MUKISI

Majelis Syuro Upaya Kesehatan Islam Indonesia (MUKISI) telah mengadakan muktamar ke-IV pada 24-27 Agustus 2016. Acara yang diadakan di Lumire Hotel & Convention Center, Jakarta dihadiri oleh delegasi dari semua cabang MUKISI dan rumah sakit Islam yang tergabung sebagai anggota MUKISI. Tema yang dibawa kali ini adalah tentang konsolidasi di era MEA. Para pembicara seperti Prof Dr Hasbullah Thabrany, Dr Daeng Muhammad Faqih dan lain-lain banyak memberikan pencerahan.

IMG_0902

Dr Eka Ginanjar dan Dr Fakhrur Razi menjadi pembicara di Seminar ^ tentang kolaborasi RS Syariah dengan institusi pendidikan dan asosiasi profesi

IMG_0903

 

Muktamar kali ini juga menyaksikan pergantian para pengurus pusat MUKISI. Ketua MUKISI yang terpilih adalah Dr Masyhudi, dan Dr Burhanuddin terpilih sebagai sekretaris.

IMG_1059

Serah terima jabatan ketua dan sekretaris MUKISI

IMG_1056

Para Pengurus Pusat dan Dewan Pembina

 

PT PIH masuk sebagai salah satu sponsor acara dan hadir untuk mempromosikan produk-produk unggulan di bawah unit bisnis strategis IMANI Consulting, IMANI Hospitals, IMANI Health Equipment dan IMANI Primary Care.

IMG_1065

Di kesempatan yang sama, PT PIH telah menandatangani kerjasama dengan Hospital Pakar An-Nur Malaysia sebagai sole marketer “Corporater” untuk Indonesia, sebuah software untuk memantau kinerja. Produk ini berasal dari Norwegia dan sudah digunakan oleh banyak perusahaan besar kelas dunia.

IMG_1061

MOU pemasaran Corporater antara PT PIH dengan Hospital An-Nur

IMG_1064

CEO Hospital Pakar An-Nur Tn Hj Shaharom Mohd Shariff, Direktur Utama PT PIH Dr Burhanuddin Hamid, COO MIGIT En Mohd Syamsul Maksud

 






Low Cost Hospital Benchmarking

image

Pada 28 dan 29 Mei 2016, Imani Hospital Management dengan kerjasama PROKAMI telah menyelenggarakan kegiatan benchmarking ke low cost hospital di RS Baitul Hikmah Kendal dan RSU Nurussyifa Kudus. Kegiatan ini diikuti oleh para praktisi manajemen rumah sakit dalam rangka studi banding bagaimana strategi dan operasional rumah sakit yang berkualitas dengan kendali biaya yang efisien.

Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mu’min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik. Al-Isra”: 19

Dari benchmarking ke dua rumah sakit ini, dapat disimpulkan bahwa kunci efisiensi adalah kedekatan dengan Allah, standar dan budaya kerjanya adalah akhlak islami.  Pelayanan kesehatan sejatinya adalah sebuah dakwah, yang dalam pelaksanaannya menuntut pengembangan kompetensi, dan konsekuensinya memberikan imbalan. Prinsip-prinsip efisiensi biaya diterapkan dalam konstruksi fasilitas fisik, manajemen keuangan, manajemen SDM, manajemen logistik dan lain-lain, sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam visi dan misi rumah sakit dapat diterjemahkan dalam manajemen operasional. Semoga prinsip-prinsip ini bisa direplikasi ke semua rangkaian rumah sakit Islam agar bisa memberikan pelayanan kesehatan islami yang komprehensif.

 

Rumah Sakit Baitul Hikmah, Kendal

Rumah Sakit Baitul Hikmah, Kendal

 

IMG_5404[1]

 

IMG_5389[1]

 

 

IMG_5395[1]

Rumah Sakit Nurussyifa, Kudus

IMG_5394[1] IMG_5392[1]

 

IMG_5391[1]

 

 

 

Penguatan Profesi di Sektor Privat dalam Pengokohan Peran Dakwah di Bidang Kesehatan

* Disampaikan dalam diskusi panel di pertemuan RUPS PT Persada Imani Husada pada 31 Januari 2016 di Jakarta

Dakwah dan bisnis merupakan suatu kesatuan. Justru di zaman Rasulullah SAW, Rasulullah dan para sahabat yang merupakan pejuang Islam dan prajurit perang umumnya adalah seorang entrepreneur dan memiliki kekayaan yang berlimpah. Dengan demikian, mereka dapat menginfakkan hartanya di jalan dakwah dan dengan bisnis yang dijalankan tersebut dapat mereka jadikan sebagai ladang dakwah. Maka dari itu, bisnis dan dakwah merupakan suatu kesatuan.

Dalam menggerakkan dan menjalankan bisnis, integritas dan pemahaman terhadap konsekuensi dari seorang pengemban amanah dari para pelakunya merupakan syarat mutlak agar terpercaya dan sukses. Maka tetap perlu ada suatu kesepakatan dan kejelasan tertulis dalam dalam proses penyelenggaraan bisnis tersebut. Karena jika hal ini tidak dilakukan dengan baik dan dengan suatu kesepakatan yang jelas dan tertulis, kita hanya akan menunggu keterpurukan dan kegagalan dari bisnis tersebut. Sebagaimana Ali bin Abi Thalib RA menyatakan bahwa suatu kebaikan yang tidak terencana dengan baik akan dikalahkan oleh suatu keburukan yang terencana dengan baik. Begitulah bisnis yang digerakkan oleh pejuang dakwah. Walaupun orang-orang di dalamnya adalah orang baik dan tujuan didirikan bisnis tersebut adalah tujuan yang baik, namun jika bisnis tersebut tidak dikelola dan direncanakan dengan baik, maka hanya akan menunggu kehancuran dari bisnis tersebut.

Dunia usaha memiliki garis pertumbuhan dan zonanya sendiri. Satu hingga lima tahun pertama adalah suatu keniscayaan terjadinya suatu penurunan atau kemunduran. Bisnis di bidang apapun, tidak hanya di bidang kesehatan, lima tahun awalnya akan terjadi kegagalan-kegagalan. Setelah melewati tahun kelima ini, akan tampak suatu penanjakan, di sinilah yang akan menjadi suatu pembeda antara bisnis yang akan survive dengan yang akan tenggelam dengan kegagalan yang telah dialaminya. Seberapa jauh bertahan dan bangkitnya bisnis tersebut dari keterpurukannya akan menjadi indikator tanjakan dari bisnis tersebut sehingga jika telah berhasil melewati tanjakan tersebut, akan mulai tampak harapan lebih baiknya masa depan bisnis tersebut dan growth path-nya akan tampak meningkat hingga melewati zona hard life dan memasuki zona easy life.

Proses yang dialami dari awal bisnis ini dibentuk, hingga terjadi kegagalan-kegagalan disebut dengan ‘death valley atau palung kematian’. Bagaimana cara suatu badan usaha bisnis dapat melewati death valley-nya masing-masing tergantung pada panjangnya visi badan bisnis tersebut ke depannya. Dengan visi yang jelas, maka badan bisnis tersebut dapat berjalan pada path– nya sesuai dengan visi tersebut.

Suatu badan bisnis juga terhubung dengan banyak stake hoder. Hal ini harus disadari oleh pengelola bisnis demi keberlangsungan bisnis tersebut. Tiga stake holder utama yang harus diseimbangkan agar terwujudnya visi dan kemajuan dari badan bisnis adalah investor, customer, dan people.

Investor merupakan sumber dana dari badan bisnis. Terdapat dua jenis investor yakni investor internal yang merupakan pemegang tetap saham dan investor external yang merupakan investor pendatang yang menitipkan investasinya baik secara langsung maupun tidak langsung. Goals dari investor adalah return. Seberapa besar return yang dapat dijanjikan oleh badan bisnis pada investornya.

Stake holder utama kedua adalah customer. Goals dari customer adalah pelayanan yang memuaskan yang dapat diberikan oleh suatu badan bisnis. Semakin memuaskan pelayanan yang diberikan akan mengundang customer semakin banyak. Namun perlu diperhatikan bahwa keberhasilan suatu badan bisnis dalam melayani customer tidak dilihat dari pelayanan maksimum yang dapat diberikan melainkan pelayanan optimum, yakni pelayanan yang bagus dan terbaik sesuai dengan kelasnya.

Stake holder utama ketiga adalah people atau karyawan yang akan menjalankan program kerja bisnis. Goals dari people adalah kesejahteraan. Kesejahteraan karyawan juga perlu diperhatikan agar meningkatnya kinerja karyawan sehingga menunjang pada perkembangan dan pertumbuhan suatu badan bisnis.

Tiga stake holder utama ini perlu diperhatikan dengan baik dan seimbang demi menunjang keberhasilan suatu badan bisnis. Jika perhatian berlebih pada salah satu stake holder saja, akan mengorbankan stake holder lainnya. Contohnya, jika suatu badan bisnis memberikan pelayanan yang berlebihan kepada customer maka akan berdampak mengurangi return pada investor dan mengurangi kesejahteraan karyawan.

Jika suatu badan bisnis telah dapat menyeimbangkan ketiga stake holder ini, maka dapat dikatakan bisnis tersebut telah melewati zona hard life dan memasuki zona easy life. Pada zona easy life ini akan terjadi peningkatan dari growth path yang kemungkinan peningkatannya menjadi dua hal. Pertama, terus meningkat hingga melebihi garis batas dari kebermanfaatan bisnis terhadap sosial sehingga menjadi bisnis berbasis komersial dan kapital. Kedua, peningkatan growth path tersebut tetap dijaga pada zona kebermanfaatan bisnis terhadap sosial sehingga bisnis tersebut tidak hanya tumbuh tapi juga menumbuhkan. Pola peningkatan kedua inilah yang sebaiknya diupayakan oleh bisnis para pendakwah, dimana tidak bervisi pada materi saja tapi ada unsur dakwah yang dapat diberikan.

Maka dari itu, bisnis apapun yang akan dijalankan, semua akan mengacu pada satu tujuan yakni tujuan dakwah dan memberi manfaat bagi yang lain. Jika suatu badan bisnis di bidang kesehatan, maka dakwah yang akan diemban adalah dakwah berbasis kesehatan. Selain itu, juga diperlukan suatu keistiqomahan dalam mengemban tujuan dakwah ini. Inilah yang disebut dengan konsistensi dakwah. Para pelaku bisnis juga harus siap dalam menghadapi masa krisis, karena para pendakwah akan selalu beruntung dalam bisnisnya. Hal ini dikarenakan oleh keberuntungan yang akan didapatkannya tidak hanya dari segi materi saja, namun juga keberuntungan yang telah dijanjikan oleh Allah SWT yakni pahala dan pertolongan yang lebih dari Allah SWT. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Tabrani, yakni “Tujuh puluh ribu malaikat akan menolong orang yang menolong orang lain”.

 

 

 

IPC di Sumatera Barat

Akhir pekan kemarin 6-7 Februari 2016, tim dari PT PIH dan IPC bersama dengan tim PP Prokami melakukan silaturahim ke Sumatera Barat. Kunjungan kali ini bermaksud untuk melakukan konsolidasi dan sosialisasi tentang bisnis pelayanan di bidang kesehatan di kalangan profesional kesehatan muslim.

Beberapa tenaga kesehatan ada yang sudah memiliki klinik yang sudah operasional dan juga berpraktik secara mandiri. Para praktisi dihimbau untuk menata manajemen strategis dan operasional masing-masing dan bergabung dengan BPJS sebagai provider pelayanan. Rencana membangun klinik-klinik baru juga perlu segera direalisasikan, bagi memenuhi kebutuhan masyarakat serta menjadi sarana pemberdayaan profesional kesehatan untuk kembali berkarya di Ranah Minang.

Bersama pengurus Klinik Medika Imani, Kota Padang

Bersama pengurus Klinik Medika Imani, Kota Padang

Sosialisasi wacana bisinis pelayanan di bidang kesehatan

Sosialisasi wacana bisinis pelayanan di bidang kesehatan

IMG_3813

Dr Burhanuddin menyampaikan materi tentang manajemen strategis dan operasional bisnis klinik

IMG_3810

Kerjasama dengan klinik BKR MKGR

Ormas Musyawarah Keluarga Gotong Royong (MKGR) telah mengundang Imani Primary Care (IPC) untuk menjadi konsultan dan pendamping dalam program revitalisasi klinik di jejaring BKR-MKGR. Pertemuan yang diadakan di kantor DPP MKGR di Jalan Diponegoro Jakarta berlangsung baik pada 3 Februari lalu dan dihadiri oleh semua stakeholder MKGR yang terkait. Beberapa rencana strategis dan rencana kerja telah disusun dan akan ditindaklanjuti dalam rapat-rapat berikutnya. Semoga kerjasama ini banyak membawa manfaat bagi masyarakat.

IMG_3728

IMG_3731

Dr Burhanuddin memberikan presentasi dan rencana kerja dari IPC

Dr Burhanuddin memberikan presentasi dan rencana kerja dari IPC

 

Foto bersama IPC dan MKGR

Foto bersama IPC dan MKGR

Rapat Umum Pemegang Saham 2016

PT Persada Imani Husada telah mengadakan RUPS tahun 2016 pada 31 Januari di Hotel Sofyan Betawi, Jakarta. Rapat dihadiri oleh semua pemegang saham, dewan komisaris dan direksi yang berjumlah 23 orang.

Sebuah diskusi panel telah diadakan sebelum rapat untuk meningkatkan wacana bisnis bagi semua yang hadir. Para narasumber terdiri dari Drs Chairil Anwar, Apt., Aleg Komisi IX yang membawahi bidang kesehatan, Prima Kumara, ST., Presiden Direktur Relife Property Management, dan DR Fahmy Alaydroes, S.Psi, MM, M.Ed., Ketua Umum Jaringan Sekolah Islam Terpadu.

IMG_3595

Sambutan dari Direktur Utama PT PIH, Dr Achmad Zaki, Sp.OT, M. Epid

IMG_3624

Wacana bisnis dari Bapak Prima Kumara, ST

IMG_3652

Peserta rapat dengan narasumber diskusi panel

 

Agenda dilanjutkan dengan RUPS yang diadakan tertutup dengan semua para pemegang saham, dipimpin oleh komisaris utama Dr Eka Ginanjar, Sp.PD, KKV, FINASIM, FACP.

Rapat telah memilih 4 orang komisaris baru yaitu: Dr Budi Setiawan Djamhur, MARS., Dr Eka Ginanjar, Sp.PD, KKV, FINASIM, FACP., Dr Achmad Zaki Sp.OT, M.Epid, dan Dr Kornadi, Sp.JP., dan 3 orang direktur yaitu: Dr Burhanuddin Hamid, MARS., Dr Arief Wardoyo, SpPD dan Dr Siti Aisyah Ismail.

Beberapa strategi baru telah ditetapkan sebagai target bagi tahun 2016. Waktu dan pengalaman akan selalu menjadi bagian dari pembelajaran yang akan menjadi bekal dalam menempuh jalan ke depan. Semoga Allah selalu memelihara niat kita dalam mendapatkan keuntungan dunia dan akhirat. Amin.

IMG_3656

RUPS sedang berlangsung

IMG_3669

Para pemegang saham, dewan komisaris dan direksi PT PIH

 

Membentuk Bangsa yang Mandiri melalui Pendidikan dan Kesehatan

Negara yang merdeka akan menghasilkan bangsa yang mandiri yang dicetak dari sistem pendidikan yang baik. Bermula dengan misi dan visi para pemimpin lalu merencanakan program untuk diimplementasikan ke dalam masyarakat. Namun dalam setiap tahapan yang dilalui, bisa terjadi hambatan yang akhirnya menghambat pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Sebuah negara dapat dianalogikan sebagai sebuah organisasi dengan komponen-komponen dan peran masing-masing sebagai berikut:

a) Pemimpin dan kepemimpinan (leader and leadership)

Para pejuang kemerdekaan yang menjadi pendiri bangsa ini memiliki tahap pendidikan yang melahirkan kasadaran untuk membangun bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat dan mandiri. Perjuangan mereka berubah dari upaya membebaskan negara dari penjajah kepada perjuangan membangun bangsa yang siap bersaing. Pasca kemerdekaan mereka merancang desain sebuah bangsa dan negara dan menetapkan arah tujuannya. Pendekatan top-down digunakan untuk implementasi visi dan misi yang mereka bentuk dengan membuat program jangka pendek, menengah dan jangka panjang.

Bila pemimpin tidak mempunyai grand design tentang ke mana arah bangsa ini mau dibawa, negara sebagai sebuah organisasi tidak bisa bergerak ke arah mencapai tujuannya. Sistem pendidikan kita saat ini belum bisa menghasilkan individu yang mandiri dan merdeka dalam arti yang sesungguhnya. Hal ini bisa terjadi karena para pemimpin mungkin belum menguasai filosofi pendidikan yang sesungguhnya yaitu pembentukan karakter. Fungsi para guru bukan sekedar transfer ilmu (mu’allim) kepada peserta didik, tapi membentuk pribadi (muaddib) mereka menjadi individu yang baik. Pendidikan kita hanya menekankan aspek fisik seperti aksesibilitas, fasilitas fisik, pengadaan tenaga pengajar dan sebagainya, tapi belum memperhatikan aspek kualitas seperti kurikulum yang baik, muatan dan nilai yang diajarkan, kualitas tenaga pengajar dan pemerataan mereka.

b) Individu yang membentuk masyarakat dengan penguasaan yang baik terhadap personal mastery, mental model, mempunyai shared vision dan membentuk team learning

Pemimpin yang visionary harus didukung oleh masyarakat yang mempunyai value yang baik. Program yang baik tidak bisa berhasil bila implementasi di tingkat grass root tidak efektif.  Hambatan-hambatan bisa saja terjadi di setiap komponen tersebut. Mental sebagai bangsa yang terjajah belum bisa dihilangkan walaupun negara sudah 70 tahun mencapai kemerdekaan. Bangsa ini masih dibelenggu ketergantungan terhadap pihak eksternal yang menggambarkan bahwa personal mastery dan mental model belum dikuasai dengan baik. Kemerdekaan diartikan hanya secara literal yaitu merdeka dari kekuasaan politik, namun arti kemerdekaan sesungguhnya yang berarti mandiri dan bebas menentukan masa depan sendiri belum dapat diinternalisasi.

c) Pemimpin dan masyarakat menjalankan program yang telah disepakati bersama untuk mencapai tujuan yang diinginkan

Sebagai sebuah tim, pemimpin dan masyarakat harus bersinergi dalam mencapai tujuan yang diinginkan bersama. Sebuah excellent organization akan memperhatikan setiap komponen dengan saksama, mengidentifikasi hambatan-hambatan (contraints) yang terdapat di setiap tahapan serta berusaha mencari solusinya sehingga dapat terus-menerus mencapai tujuannya.

Sistem pendidikan di negara ini perlu diperbaiki tujuan dan filosofinya oleh pemerintah dengan masukan dari para pakar pendidikan. Hambatan-hambatan yang ada perlu diidentifikasi dan dicarikan solusinya. Kualitas pendidikan dari aspek muatan kurikulum, nilai yang diajarkan, pembentukan karakter, kapasitas dan kualitas tenaga pengajar, distribusi dan pemerataan mereka di seluruh Indonesia, penyediaan sarana dan fasilitas fisik dan sebagainya merupakan tanggungjawab pemerintah sebagai pemimpin.

Para peserta didik, orang tua dan masyarakat berperan dalam mendukung proses belajar-mengajar dan tidak hanya menyerahkan 100% kepada sekolah dan guru. Penanaman nilai, pembentukan karakter dan penguatan-penguatan perlu dilakukan juga di rumah karena sebagian besar waktu anak adalah di rumah. Lingkungan yang aman, hubungan baik antar tetangga, struktur sosial masyarakat yang baik semuanya menyumbang terhadap perkembangan dan pembentukan kepribadian.

Dalam bidang kesehatan, kerangka pikir yang sama perlu diterapkan. Sebagai bangsa yang merdeka, kita sedang menuju ke arah bangsa yang produktif sehingga tidak perlu tergantung secara ekonomi kepada negara lain. Produktivitas dapat dicapai bila masyarakatnya sehat dan mempunyai kompetensi yang cukup, yang pada gilirannya akan meningkatkan status ekonomi lalu menjadi bangsa yang mandiri yang self-sustaining.

Slide2

Kemajuan sebuah negara diukur dari Human Development Index yang di dalamnya menilai tingkat pendidikan dan tahap kesehatan masyarakatnya. Kompetensi dan karakter yang baik harus ditampung oleh fisik yang sehat. Kedua-dua aspek ini penting karena ia menentukan produktivitas dan daya ungkit ekonomi sebuah negara. SDM yang mempunyai kapasitas dan kompetensi yang baik merupakan aset berharga sebuah negara yang siap bersaing dalam skala nasional maupun internasional. Bila karakteristik ini diproyeksikan ke jumlah populasi yang besar di negara ini, dapat dibayangkan kekuatan ekonomi dan status politik internasional yang bisa diraih.

Bila dilihat dalam perspektif mikro, sistem kesehatan nasional masih mengalami banyak hambatan seperti kebijakan-kebijakan yang tidak jelas dan saling berkonflik, implementasi program yang tidak sesuai dengan filosofi dan tujuan program, distribusi tenaga kesehatan yang belum merata, aksesibilitas terhadap fasilitas kesehatan yang belum baik, kualitas dan kompetensi tenaga kesehatan yang belum memenuhi standar dan sebagainya. Sebagai bangsa yang merdeka, bidang kesehatan sewajarnya menjadi prioritas utama pemerintah dengan memberikan anggaran yang besar dan menyediakan pelayanan kesehatan yang baik sehingga tingkat kesehatan masyarakat dapat dijamin yang pada gilirannya menjadikan kita bangsa yang produktif dan mandiri.

Untuk menjadi sebuah excellent organization, negara harus memiliki pemimpin yang visioner yang mampu menggerakkan masyarakat menuju tujuan yang telah ditetapkan. Program-program yang telah dibuat dalam rangka mencapai tujuan perlu difahami bersama dan didukung implementasinya oleh masyarakat. Hambatan-hambatan yang ada perlu diidentifikasi dan dicarikan solusinya sehingga tujuan dapat segera dicapai. Dengan itu, negara dapat terus-menerus mencapai tujuannya dan menjadi bangsa yang merdeka dan mandiri.

IPC 1st National Meeting & 2016 Business Plan

IMG_3022 IMG_3050

Rapat Kerja Nasional pertama yang membahas rencana pengembangan bisnis 2016 Imani Primary Care, telah terselenggara pada 28-29 November 2015 di Villa Bukit Hambalang, Sentul, Bogor. Dihadiri oleh pimpinan semua klinik anggota IPC dan 1 klinik anggota baru, diskusi telah berjalan baik serta menelurkan banyak ide-ide cemerlang.


IMG_3039IMG_3026Rencana bisnis dibahas dari 4 perspektif Balanced Score Card, lalu diterjemahkan ke dalam perspektif manajemen operasional sehingga memudahkan implementasinya. IPC dan klinik anggota akan saling mendukung dalam meraih manfaat kolektif, baik dalam aspek bisnis maupun aspek manfaat terhadap masyarakat. Semoga tahun 2016 menyaksikan pertambahan anggota dalam jejaring IPC dan klinik anggota IPC mencapai peningkatan bisnis yang tinggi. Kuatkan profesi, kokohkan peran dalam berkhidmat!

IMG_3063

 

Pendampingan Persiapan Akreditasi PERSI Riau

Pada acara pendampingan persiapan akreditasi kali ini, PERSI RIAU menggandengan PT. Persada Imani Husada (IMANI), Jakarta yang berperan sebagai konsultan sekaligus panelis. Pihak Imani sendiri menugaskan tiga panelis seniornya, dr. Yahmin Setiawan, MARS sebagai Direktur RST. Dompet Dhuafa, Parung-Bogor, Jawa Barat. Ns. Turiman, S.Kep., perawat senior yang bertugas di RS. Haji, Jakarta dan dr.Burhanuddin Hamid Darmaji, MARS selaku Direktur Operasional IMANI, hospital management & consultant.

Selanjutnya di http://www.detakkampar.com/2015/11/persi-daerah-riau-gelar-pendampingan.html