Launching Klinik Prima Sehat, Panyabungan, Mandailing Natal

Pada hari Ahad tanggal 13 Mei 2017, IMANI Primary Care telah mengadakan peresmian klinik baru di jejaring IPC yaitu Klinik Prima Sehat di Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal. Acara launching dihadiri oleh tamu undangan, para pemegang saham, tokoh masyarakat dan masyarakat setempat. 

Klinik ini menyediakan beberapa pelayanan kesehatan, antara lain praktik dokter umum, praktik dokter gigi, praktik bidan, tindakan gawat darurat, pelayanan farmasi dan laboratorium sederhana. Klinik ini bekerjasama dengan BPJS serta beberapa perusahaan dan asuransi swasta.
Klinik Prima Sehat dapat dikunjungi di Jalan Willem Iskandar Panyabungan II, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Klinik dapat dihubungi di 081360974411.
 IMG_8772
IMG_8771

Tokoh masyarakat dan tamu undangan yang hadir

IMG_8766

Sambutan oleh Kepala Dinas Kesehatan Madina, Drg Ismail Hasibuan

IMG_8767

Pengenalan tim klinik kepada tamu yang hadir

IMG_8769

Peremian klinik oleh Bupati Mandailing Natal

Launching Klinik Satria Mekar, Tambun, Bekasi

Pada hari Kamis tanggal 13 April 2017, IMANI Primary Care telah mengadakan peresmian klinik baru di jejaring IPC yaitu Klinik Satria Mekar di Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi. Acara launching dihadiri oleh tamu undangan, para pemegang saham, tokoh masyarakat dan masyarakat setempat. 

Klinik ini menyediakan beberapa pelayanan kesehatan, antara lain praktik dokter umum, praktik dokter gigi, praktik bidan, tindakan gawat darurat, pelayanan farmasi dan laboratorium sederhana. Klinik ini bekerjasama dengan BPJS serta beberapa perusahaan dan asuransi swasta.
Klinik Satria Mekar dapat dikunjungi di Jalan Pisangan Raya, Desa Satria Mekar, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi. Klinik dapat dihubungi di 085217037472
852106615_187853852108788_190519

852119816_132726

Peresmian klinik oleh Bapak Iskan Qolba Lubis

SANM0350

Para pemilik klinik dengan tim IPC

SANM0374

852107934_189945

Tampak depan klinik Klinik Satria Mekar, Jalan Pisangan Raya, Desa Satria Mekar, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi

IMG-20170418-WA0036

Bagian pendaftaran

IMG-20170418-WA0037

Ruang periksa dokter

IMG-20170418-WA0039

Ruang tunggu tengah

IMG-20170418-WA0040

Laboratorium

IMG-20170418-WA0042

Kamar perawatan

IMG-20170418-WA0043

Kasir dan farmasi

SANM0329

Ruang periksa dokter gigi

SANM0358

Workshop Marketing di Era BPJS

Pada tanggal 13 Oktober 2016 Imani Primary Care mengadakan Workshop klinik yang sudah menjadi agenda rutin bulanan. Tema kali ini adalah tentang “Marketing Klinik di Era BPJS”. Peserta hadir baik dari dalam dan luar kota, baik yang sudah berjejaring dan yang belum berjejaring dengan Imani Primary Care. Di antara peserta yang hadir ada dari Bengkulu, Banjarnegara, Bandung, Bekasi, Depok, Bogor, dan Jakarta. Jumlah peserta yang hadir mewakili dari masing-masing klinik berjumlah 22 Klinik dan 2 dari Rumah Sakit yaitu Rumah Sakit Mulya Tangerang dan RSIA UMMI Bogor.

Acara dimulai jam 08.30 sampai dengan 15.00  wib. Dibuka dengan pengenalan Company Profile dari PT. Persada IMANI Husada dan Imani Primary Care sebagai pelaksana acara. Sebagai pembicara adalah dr. Deswara, MM. MARS dari Bandung, beliau adalah salah satu dosen di program Magister Manajemen Rumah Sakit Universitas Pasundan Bandung. Acara berjalan dengan lancar dan antusias para peserta sangat luar biasa, banyak pertanyaan-pertanyaan yang di sampaikan oleh peserta kepada pembicara terutama tentang bagaimana proses dan persyaratan untuk bisa bekerjasama dengan BPJS, serta cara dan tips untuk meningkatkan jumlah kapitasi dan yang tidak kalah penting adalah keuntungan bekerjasama dengan BPJS. Dan tidak terasa waktu berjalan cepat masih banyak yang ingin disampaikan pembicara dan juga pertanyaan yang ingin disampaikan oleh peserta, tetapi waktu tidak mencukupi. Harapannya semoga Imani Primary Care bisa mengadakan sesi ke 2 untuk melanjutkan diskusi tentang Marketing Klinik di era BPJS.

IMG_2307 IMG_2308

 

Seminar dan Workshop Pendirian Klinik

Imani Primary Care bekerjasama dengan Prokami Sulawesi Selatan dan PT. Tri Arta Medika telah menyelenggarakan seminar dan workshop dengan tema “Mendirikan dan Mengelola Klinik di Era Jaminan Kesehatan Nasional”. Acara ini diadakan di Hotel JL Star Makassar pada hari Sabtu-Ahad, 14-15 Mei 2016.

Dengan menghadirkan para pembicara yang ahli di bidangnya, antaranya Dr. Ede Surya Darmawan, SKM, MDM beserta dr. Burhanuddin Hamid, MARS dan Yuli Setiawan, SKM, acara seminar dan workshop ini membuat para peserta sangat antusias mengikuti materi-materi serta solusi-solusi yang dipaparkan. Tidak hanya itu, para pembicara lokal dari pihak Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel bersama pihak BPJS Wilayah IX juga turut hadir dalam memaparkan gambaran strategis perizinan dan akreditasi serta kerjasama dengan BPJS di Indonesia.

“Tercatat sekitar 90 orang yang mengikuti kegiatan ini sebagai peserta seminar dan 60 orang sebagai peserta workshop di hari berikutnya. Kami berupaya maksimal dalam persiapan kegiatan yang bertemakan manajemen klinik kali ini karena tema yang diangkat benar-benar berbeda dari kebanyakan seminar yang biasa digelar dengan topik cabang ilmu kedokteran, dan memang belum pernah kita aplikasikan selama ini di wilayah Sulsel”, terang dr. Isman Sandira selaku ketua panitia kegiatan.

Saat ditanya tentang kegiatan ini, ketua Prokami Sulsel dr Agus Alim, sangat yakin ini akan menjadi batu loncatan bagi para calon owner klinik. “Kami optimis acara ini insya Allah sukses dan harapannya bisa membuka pandangan para peserta tentang peluang pendirian dan manajemen klinik khususnya di wilayah Sulawesi Selatan”, tegasnya saat ditemui sesaat setelah memberi sambutan di awal kegiatan.

Fasilitas berupa modul serta materi pelatihan yang telah diberikan kepada peserta yang mengikuti kegiatan selama dua hari terdiri dari Pedoman Business Plan Imani Primary Care, proyeksi keuangan klinik, marketing plan klinik, plan of action akreditasi klinik, dan pengelolaan human capital klinik.

IMG-20160516-WA0024

Para panitia dan narasumber

IMG-20160516-WA0036

Diskusi kelompok

IMG-20160516-WA0040

DR Ede Surya Darmawan menyampaikan materi

P_20160515_085308

Narasumber: Dr Burhanuddin Hamid dan Bpk Yuli Setiawan

 

 

Workshop Manajemen Keuangan Klinik

Manajemen keuangan merupakan unsur yang sangat penting dalam pengelolaan klinik. Beberapa survey sederhana yang dilakukan mendapati bahwa banyak klinik masih menerapkan pengelolaan keuangan klinik yang belum standar. Bagi meningkatkan kapasitas ini, IPC telah menyelenggarakan Workshop Klinik tentang standar prosedur dan laporan keuangan klinik pada Rabu 15 Juni 2016 di RS Olahraga Nasional Cibubur. Workshop ini dihadiri oleh peserta dari tujuh klinik di daerah Jakarta, Bekasi, Depok, Bogor dan Bandung.

Acara terdiri dari dua sesi yaitu standar prosedur operasional dan pembuatan laporan keuangan klinik. Pada sesi pertama, pembicara menyampaikan contoh SPO yang sudah berjalan. Di sesi kedua peserta langsung dilibatkan secara hands-on dengan praktikum cara membuat laporan keuangan. Ke depan, WS manajemen keuangan bisa dibuat dengan target peserta yang lebih spesifik yaitu untuk pengelola keuangan klinik (dengan latar belakang ilmu ekonomi) dan untuk para pimpinan dan manajerial klinik (latar belakang non ekonomi).

Workshop klinik berikutnya akan diadakan pada bulan Agustus dengan tema peningkatan kapasitas SDM.

13335874_1605957429716534_5904433518428711943_n

WS 2: Manajemen Keuangan Klinik

IMG_5436 IMG_5438

 

Narasumber Ibu Sri Rahayu menyampaikan materi WS

Narasumber Ibu Sri Rahayu menyampaikan materi WS

Konsinyering Standar Sertifikasi Rumah Sakit Syariah

Meningkatnya permintaan layanan produk berbasis syariah di kalangan masyarakat dinilai sebagai perkembangan positif. Selain dalam industri keuangan syariah, belakangan masyarakat juga membutuhkan layanan kesehatan. Menyikapi hal ini, Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) bekerjasama dengan Majelis Syuro Upaya Kesehatan Islam Indonesia (MUKISI) menyelenggarakan konsinyering “Standar Sertifikasi Rumah Sakit Syariah,” di Sentul, Bogor, Jawa Barat pada 8-9 Februari 2016 lalu.

“Kegiatan ini sangat positif dan sebagai upaya kita untuk meningkatkan layanan kepada masyarakat, khususnya umat Islam, dalam menyediakan dan mengupayakan kesehatan yang sesuai prinsip-prinsip syariah,” ujar Ketua Pokja Bisnis dan Wisata Syariah DSN, Dr Endy Astiwara, dalam pengantarnya. Selain Endy, hadir dari DSN antara lain Bukhori Muslim, Hery Sucipto, Nashimul Falah, Aminuddin, M Dawud Arif Khan, serta jajaran pimpinan DSN, yakni Prof Jaih Mubarak (Wakil Ketua), M. Hidayat (Wakil Sekretaris), dan Prof Hasanuddin (Wakil Ketua). Sedangkan dari pihak MUKISI, hadir jajaran pengurus pusat dan perwakilan dari rumah sakit Islam yang menjadi pilot project bagi penerapan sistem syariah dalam manajemen dan operasional rumah sakit, yakni RS Islam Sultan Agung Semarang dan RS Nur Hidayah Yogyakarta.

Dalam pandangannya, Prof Jaih menyebutkan, rencana penerapan sistem rumah sakit syariah merupakan hal baru yang belum pernah ada di Indonesia. Karena itu, kata dia, DSN menyambut baik dan akan mengawal, terutama dari sisi regulasi dan fatwanya. “Kalau MUKISI dari sisi operasional dan teknis medisnya, sementara DSN dari aspek regulasi, terutama fatwanya. Kedua pihak akan menyusun pedoman bersama bagi penerapan rumah sakit Syariah,” ujar dia.

Dirut RS Nur Hidayah, DR. dr. Sagiran yang menjadi salah satu narasumber konsinyering menyambut antusias rencana sertifikasi rumah sakit syariah tersebut. “Sudah lama kami menginginkan upaya ini terwujud. Ini sebagai bentuk dakwah kami serta membantu kaum dhuafa dalam pemenuhan kesehatan. Apalagi MUKISI ini anggotanya lebih dari 200 rumah sakit, hal ini potensi besar bagi pengembangan sektor kesehatan yang sesuai prinsip-prinsip syariah,” kata dia.

Dari sisi kehalalan, menurut Aminuddin yang juga menjabat wakil ketua Komisi Fatwa MUI dan terlibat dalam regulasi halal LPPOM-MUI menegaskan, MUI nantinya akan memberikan sertifikasi kehalalan dalam dua aspek, yakni makanan termasuk dapurnya (rumah sakit), dan aspek non makanan seperti obat-obatan dan sistem operasional, baik yang terkait manajemen maupun hak-hak pasien.

Peserta dari kedua lembaga menyepakati berbagai rumusan, antara lain lembaga yang akan melakukan sertifikasi, auditor dan lain sebagainya. Berbagai rumusan itu akan dikonsultasikan kepada pimpinan masing-masing, dan selanjutnya akan dirapatkan lagi untuk disempurnakan kedua pihak untuk nantinya dijadikan rujukan dan pedoman tetap bagi sertifikasi rumah sakt syariah.

Sumber: http://dmi.or.id/dsn-mui-dan-mukisi-gelar-konsinyering-pedoman-sertifikasi-rumah-sakit-syariah/

IMG_3861 IMG_3865

Workshop Pengelolaan Klinik

Imani Primary Care dengan kerjasama PROKAMI Kota Depok telah menyelenggarakan workshop satu hari tentang pengelolaan klinik pada Kamis 5 Mei 2016 di Hotel Santika Depok. Workshop dengan tema “Peluang, Tantangan dan Sinergi Klinik Kesehatan di Era Jaminan Kesehatan Nasional” ini telah dihadiri oleh hampir 40 orang peserta.

Modul pelatihan yang telah diberikan terdiri dari modul manajemen keuangan, manajemen marketing, manajemen SDM dan manajemen kualitas. Semua peserta yang telah hadir akan difollow up dalam kelompok mentoring pengelolaan klinik.

Beberapa siri seminar, pelatihan dan workshop pengelolaan klinik akan diadakan di seluruh Indonesia. Dalam waktu terdekat di Makassar 14-15 Mei 2016. Info lanjut di website dan FB Imani Primary Care.

IMG_4846

Dr Burhanuddin sebagai narasumber

IMG_4847

Dr Fakhrur Razi, ketua Prokami Kota Depok memberi sambutan

IMG_4845

Para peserta workshop

IMG_4843

Penyampaian tanda mata kepada narasumber

IMG_4844

Foto bersama peserta workshop

 

IPC 1st National Meeting & 2016 Business Plan

IMG_3022 IMG_3050

Rapat Kerja Nasional pertama yang membahas rencana pengembangan bisnis 2016 Imani Primary Care, telah terselenggara pada 28-29 November 2015 di Villa Bukit Hambalang, Sentul, Bogor. Dihadiri oleh pimpinan semua klinik anggota IPC dan 1 klinik anggota baru, diskusi telah berjalan baik serta menelurkan banyak ide-ide cemerlang.


IMG_3039IMG_3026Rencana bisnis dibahas dari 4 perspektif Balanced Score Card, lalu diterjemahkan ke dalam perspektif manajemen operasional sehingga memudahkan implementasinya. IPC dan klinik anggota akan saling mendukung dalam meraih manfaat kolektif, baik dalam aspek bisnis maupun aspek manfaat terhadap masyarakat. Semoga tahun 2016 menyaksikan pertambahan anggota dalam jejaring IPC dan klinik anggota IPC mencapai peningkatan bisnis yang tinggi. Kuatkan profesi, kokohkan peran dalam berkhidmat!

IMG_3063

 

Membentuk Learning Organization dari Team Learning

Membentuk Learning Organization dari Team Learning

Team Learning merupakan suatu proses menyelaraskan dan membangun kapasitas tim untuk mencapai tujuan yang diinginkan bersama.  Ini merupakan salah satu karakteristik dari sebuah Learning Organization. Suatu kehidupan organisasi akan bertumbuh dengan baik jika para anggotanya memiliki kesepahaman akan tujuan bersama dan sama-sama meningkatkan diri dengan cara belajar secara terus-menerus menurut kapasitas atau kompetensi masing-masing.  Biasanya para anggota tim telah memiliki potensi diri (personal mastery) dan mental model yang kuat, bisa berpikir secara holistik atau sistemik serta berwawasan untuk mencapai visi bersama.

Pada hakekatnya proses belajar tidak mengenal perbedaan, apapun latar belakang hidup seseorang. Manusia dan makhluk hidup lainnya dituntut untuk tetap mampu beradaptasi agar mereka bisa bertahan. Beradaptasi membutuhkan  inovasi dan kemampuan untuk berkreasi. Dan ini semua bisa didapat dengan cara belajar, baik secara individual maupun bersama.

Tahap pembentukan Team Learning:

  1. Orientation; tahap yang dilandasi oleh semangat menggebu dengan terkadang memiliki  harapan yang kurang realistis dan kurangnya kejelasan bagi anggota terhadap tujuan norma ataupun visinya.
  2. Dissatisfaction; adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan, semangat jadi menurun dan cenderung frustrasi akan peran dan tujuan. Adanya kepercayaan yang rendah dan merasa tidak mampu.
  3. Integration; mulai ada kejelasan dan komitmen terhadap peran, tugas dan visi. Timbul kepercayaan dan saling menghormati serta cenderung menghargai perbedaan untuk menghindari konflik.
  4. Production; fase dimana sudah ada kejelasan peran, nilai dan tujuan. Sekalipun sudah produktif untuk menghasilkan suatu karya, pembelajaran dan pemberdayaan tim tetap secara terus menerus ditingkatkan.

Untuk kejelasan dan  kepastian akan arah tujuan tim, visi yang dibangun harus menjadi kesepakatan dan dipahami bersama. Peran anggota yang berbeda dapat dilaksanakan namun tetap berada dalam satu koridor tujuan yang sama. Kombinasi dan kolaborasi yang juga dibangun melalui dialog dan diskusi baik pada fase dissatisfaction hingga ke production akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Proses belajar dalam satu tim akan menjadi efektif jika didasari oleh keterbukaan terhadap perubahan yang sedang berkembang, up to date dan aplikatif. Hal ini bisa diterapkan dalam kehidupan berorganisasi dalam rangka pencapaian tujuan yang diinginkan bersama tersebut.

Inovasi akan dihasilkan dengan mengembangkan terus proses pembelajaran baik di tingkat personal maupun  tim. Jadi team learning bisa menciptakan karya yang inovatif dan pada beberapa hal menjadi pelopor pembaharuan terhadap nilai-nilai atau kelaziman yang berkembang pada suatu masa.

Team learning dalam membentuk learning organization prosesnya pastilah melalui serangkaian interaksi antar anggotanya. Bisa dalam bentuk dialog, diskusi, seminar bahkan mungkin saja dengan adanya perdebatan. Dialog merupakan komunikasi dua arah di mana pihak pertama mengajukan pertanyaan  dan pihak lainnya menjelaskan atau mengklarifikasi sehingga tercapai pemahaman yang sama, terlepas dari setuju atau tidak. Sedangkan Diskusi merupakan bentuk komunikasi  multi arah, antar berbagai komunikator untuk mendapatkan suatu konsensus dari topik yang diperbincangkan.

Dalam kehidupan, baik sebagai personal maupun dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial, asal bisa mengembangkan personal mastery, memiliki mental yang tangguh, berpikir secara sistemik,  sepakat  menjalankan visi bersama  serta mampu  mengontrol  untuk  mengurangi kelemahan dalam diri maupun tim, pastilah akan mendapatkan hasil yang luar biasa. Dan niscaya penghargaan (reward) pun akan datang tanpa diharap atau diminta.  Dengan kata lain, aktifitas positif baik secara personal maupun tim apalagi bermanfaat bagi orang lain, dengan sendirinya akan mendatangkan juga penilaian dari orang atau kelompok lainnya. Cetusan positif dari penilaian ini diwujudkan dengan suatu penghargaan. Jadi penghargaan didapat sebagai konsekuensi dari  hasil yang baik, bukan merupakan buah dari harapan yang pasif.

Membangun Visi Bersama

Sebuah learning organization membutuhkan sesuatu yang mengikat semua anggotanya untuk mencapai tujuan bersama. Visi bersama atau shared vision akan membangun rasa komitmen dalam suatu kelompok. Dengan adanya kebersamaan tentu akan menciptakan satu visi yang harus dipatuhi dan dijalankan demi ketercapaian tujuan. Ide dari setiap individu dibangkitkan melalui kebersamaan. Berbagai macam ide individual digabungkan dalam satu ide besar yang mewakili semua individu. Beberapa visi yang dikumpulkan akan dikombinasikan menjadi sebuah variasi yang utuh dan universal.

Shared vision merupakan langkah yang dilakukan demi terbangunnya komitmen anggota untuk mengembangkan visi bersama, dan sama-sama merumuskan strategi untuk mencapai visi tersebut.  Visi tersebut bukan hanya milik atau hasil fikiran pemimpin saja, tetapi merupakan milik dan hasil pemikiran dari seluruh anggota. Hal ini disebabkan bahwa organisasi atau lembaga itu tidak akan berjalan dan mencapai tujuan yang ingin dicapai kalau hanya pemimpin saja.

Langkah-langkah membangun shared vision:

  1. Telling; internalisasi individu, merumuskan sendiri visi yang dibentuk dalam dirinya. Secara psikologis, maka disinilah terjadi proses berfikir individu tentang visinya yang akan dilimpahkannya ke dalam organisasinya
  2. Selling; menyampaikan visi hasil perenungan individual ke forum anggota. Di sinilah visi individual ditawarkan kepada seluruh anggota untuk disatukan. Masing-masing anggota menyampaikan visi yang telah mereka hasilkan agar anggota lainnya bisa memahaminya. Dari sini nanti akan nampak gambaran, keunggulan, efisiensi, serta daya dukung untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Dari berbagai visi yang ada, maka akan dibuat suatu kesimpulan akhir yang terlebih dahulu memikirkan pemahaman dari seluruh anggota.
  3. Testing; Kebulatan hasil komitmen dalam melahirkan visi itu juga harus diuji kehandalannya. Sebab hal ini penting dilakukan untuk melihat dimana kelemahan dan kekurangan yang ada. Testing ini dimaksudkan selain mencari kelemahan juga sebagai penguatan pemahaman anggota dalam menyikapi kelemahan itu. Sebuah visi yang belum matang dan belum teruji kehandalannya apabila dilaksanakan  akan membawa kepada kerusakan di masa mendatang. Dalam mengujicobakan visi ini juga diperlukan objektivitas. Kalau ada kelemahan harus disampaikan sebagai bahan perbaikan untuk direvisi.
  4. Consulting; Tahap ini merupakan tahap kedua terakhir dalam pelaksanaan visi. Kekurangan, kelemahan, dan hal-hal yang dipandang perlu untuk memperbaiki visi tersebut dikonsultasikan dalam anggota. Kelemahan yang banyak diminimalisir dan disempurnakan. Sehingga tidak ada celah yang akan mengganggu pelaksanaan visi itu. Ujicoba yang telah dilaksanakan harus dikonsultasikan demi kesempurnaan. Setelah diperbaiki dan disepakati, maka visi yang telah disempurnakan itu dilaksanakan secara bersama-sama.
  5. Co-Creating; Merupakan tahap operasional dari visi yang telah sama-sama dibuat. Seluruh anggota, pimpinan dan unsur yang terkait wajib menjunjung tinggi dan melaksanakan visi tersebut. Ini merupakan konsekuensi yang harus dilaksanakan sebab seluruh anggota, pimpinan, dan unsur yang terkait telah faham  proses terciptanya visi yang dihasilkan. Semua bertanggung jawab penuh dalam menjaga agar tidak terjadi kesalahan dalam menjalankan visi guna terlaksananya organisasi yang ingin mencapai tujuan bersama.

 

5372918_orig